Saturday, May 06, 2006

Sedikit Percakapan di Kala Sunyi Menjelang

Tiba- tiba ada seorang teman dari masa perkenalan awal 9 tahun yang lalu, berbicara melalui saluran telpon, ngajak nonton Tiesto, wah ada aps dengan Tiesto? Karena teman dari 2 tahun yang lalu pun mengajak, dan teman dari 4 tahun yang lalu pun pergi kesana gitu.

Jawaban “Nggak ah”, ‘Knapaaa? Gue bayarin loh’, “Masaaa?”

Akhirnya percakapan berakhir dengan “Ajak Rendy ajah, doi pasti mau gratisan (sorry ya ren, hehe)”

Di ulang dari sini ‘Knapaaa?’ dia bertanya.
Trus diri ini sendiri bertanya juga ‘Iya ya Knapa?’
Merenung-renung renung, ada kali sampe nasi dingin. Si pus tertidur, Playlist di WMP abis, hmmm…

Tiba2 seperti biasa ada yang menjawab
Itu bukan area kita (KITA???? Rifan pasti ngomel2 nih)
Keramaian bukanlah tempat dimana kita merasa bahagia
Dalam bising aku merasa pusing
Dalam riuh aku merasa sesak
Dalam ramai aku tersesat

Yang kita butuhkan adalah melayang dalam sunyi
“Halo? Ini siapa yang berbicara ya?”
Tidak penting siapa yang berbahasa, dalam diam kita berlima dapat saling berbicara tanpa harus berkata-kata.

“Jadi, kesunyian adalah area kita?”
Bukan, kita adalah tempat, kita adalah area itu sendiri, sunyi hanya salah satu bentuk yang dapat beradaptasi dengan area.

Ya, sunyi disini bukan berarti sendiri, kita tidak pernah sendiri, kami selalu ada bersamamu.
Tapi kenapa aku masih takut sendirian? Aku tau kalian ada disini, tapi kalian kan tidak berwujud, hanya tinggal di dalam satu bentuk ragawi dengan pemahaman-pemahaman yang berbeda.
Wujud hanyalah satu kekayaan duniawi yang terlihat oleh kasat mata, sedangkan pemikiran adalah kekayaan batin yang tak terukur.
“oo, jadi ini pikiran yang berbicara bukan?”

…….

Kenapa hanya sunyi? Adakah yang lain? Halo?

Karena dalam sunyi kita dapat saling mendengar, berbicara dan menemukan segala sesuatu yang selalu kamu pertanyakan setiap saat.
Hey, lalu bisakah kau jawab segala pertanyaan ku untuk si bintang timur? *ting ting*
Hhh…. Semua itu sebenarnya sudah jelas terjawab bahkan ketika engkau belum menanyakannya. Tapi kenapa masih di pertanyakan?
Karena selama ini pikiran selalu memberikan bunga-bunga ilusinya yang semakin lama semakin berkembang tanpa arah, pikiran sungguh menyesatkan…..hiks, jadi semuanya itu tidak akan terwujud yah? Bintang timur, I miss u so much, dia itu sudah menjadi endapan zat adiktif yang pada saat-saat tidak terduga kembali berpusar dan meminta dosis lebih agar menjadi seimbang. Jadi selama ini aku sakit donk ah? Gimana siy pikiran-pikiran..hhhh

Yang menyesatkan bukan pikiran. Ego dirimu sendirilah yang menginginkannya bukan? Pikiran hanya dapat memvisualisasikan apa yang kau inginkan. Kami selalu bertindak sesuai dengan apa yang kamu inginkan, hanya sesekali waktu jika kamu menginginkan kami dapat pula bebicara dan menjawab segala sesuatu yang kau pertanyakan mengenai dirimu sendirii, yah, karena tidak ada yang mengenalmu lebih dalam kecuali kami.

Ya ya, Aku akan selalu mencintai kalian wahai roh, hati, jiwa dan pikiran.

Monday, April 24, 2006

Pertanyaan yang bahkan 4 manusia dalam diri ini tidak dapat menjawab

Sebenarnya untuk siapa kata-kata tersebut, bintang timur?
Hanya kau ciptakan atas ilusi atau imajinasi indah?
Mungkinkah kau telah mengalami itu semua?
Cinta, Benci, Amarah, Dendam, KeTuhanan akan individumu?
Ya ampyuuunn, udah beberapa edisi, masih aja, dia dia dia, mungkinsemua orang akan menganggap gila diri ini. Punguk merindu bulan kali ya? Mending punguk, kupu2 kecil dengan serpihan2 sayapnya. Bukan lagi bulan,lebih jauh lagi, bintang timur, sang venus yang selalu bersinar cerah di malam dan pagi hari. Hingga kemudian, mereka menjawab….

Sunday, April 16, 2006

Bintang Timur

Aku terpuruk………… mati oleh tatapmu.
Aku terdiam…………… beku oleh pesonamu
Aku terbakar………….. leleh oleh suaramu

Mungkinkah … dia?
Kupu-kupu kecil ini berusaha menggapai bintang timur.

Sempat bertemu dalam kejapan laju bintang jatuh, yang mempersilahkan sayap ini menumpang pada bahunya untuk sejenak bertatap dengan bintang timur.

Saat itu terasa seperti zat adiktif yang rasanya terus meminta untuk kembali. Akankah bertemu lagi untuk kedua kalinya wahai bintang timur?
Haruskah tiap kerinduan mengorbankan serpihan sayap kecilku ini?
Mungkinkah kita bertemu dalam jejak yang sama? Bukan hanya sekedar melintas, namun sejenak berjalan bersama tanpa batas? Mampukah sayap kecilku ini menahan arus udara yang bergerak dengan cepat seiring bersinarnya dirimu?

Dapatkah semua pertanyaan ini kau jawab wahai bintang timur? Atau haruskah kubertanya pada kakek waktu?

Note: Knapa bintang timur? Karena walaupun pagi menjelang ia tetap bersinar dengan terang.

Friday, April 07, 2006

samudraku

Hanyut aku dalam pelukmu
Tiada aku tanpa adamu
Hilang aku dalam leburmu
Harum aku dalam nafasmu

Peluk aku sayang,
dalam rengkuhan tak berbatas
jiwa ini kan selalu merindu walau tanpa temu

Cium aku sayang,
dalam samudra belahan jiwa
saat rasa masih menikmati hangatnya senyuman

ijinkan aku merindu, walau belum bertemu
ijinkan aku bertemu, untuk melepas rindu
ijinkan aku melihat, agar aku tahu
apakah Tuhan menciptakan kau untukku?
apakah ini semua hanya khayalan semu?

Ijinkan aku tahu, walaupun kan berakhir biru

Coming soon 080406

Monday, April 03, 2006

Jawaban Atas Segala Antonimisme Sang Jiwa

Bukan mimpi, bukan realita
Segala sesuatu yang kuperlihatkan adalah apa yang terlihat

Berjalan adalah suatu pilihan
Dan aku memilih untuk terbang

Melihat dari atas bukanlah ilusi
Melainkan perspektif yang efektif

Terbangun dari mimpi adalah realita
Namun tersadar dari realita itu apa?

Tingkat ilusi dan khayal telah terlampaui
Kini aku melayang lebih jauh dan semuanya terlihat lebih jelas
Segala sesuatu di luar mimpi dan realita kemudian memenuhi kanvas

Memandang dari sudut yang berbeda adalah jawaban
Mendengar dalam kegelapan pikiran adalah pertanyaan

Bukan mimpi, bukan realita
Segala sesuatu yang kuperlihatkan adalah apa yang kulihat

Monster Diri

Aku. Aku. Aku.

Diam hampa kumelihat
Cermin hati yang membenci
Kobaran api kedengkian
Membakar hati yang tipis

Ijinkanku menangis dalam diam
Tenggelam dalam genangan
Kuberharap peluh dan airmata
Memberikan segenap kemampuannya
Untuk ku sejenak melihat
Dalam kedamaian dunia

Kuundang kau datang, wahai wujud kedamaian
Padamkan kobaran api kebencian
Yang membakar seluruh bagian tubuh ini

Melihat dalam gelap
Mendengar dalam bising
Menangis dalam sunyi
Meratap dalam hampa

Dan lalu kubertanya.
Adakah terang dalam ruang?

Airmata. Tangis. Sunyi.

Segalanya berawal dari airmata, yang merubah semuanya menjadi buram, dunia dipenuhi keabu-abuan, segalanya menjadi tidak pasti, tidak jelas, tidak.. sempurna. Pun airmata itu.

Keabu-abuan itu menumpuk hingga menjadikan segala sesuatunya gelap, tangisan terdengar, mengiringi perjalanan airmata. Kesedihan memimpin, keraguan mendampingi, hingga arak-arakan tersebut menghilang… tibalah segala sesuatunya dalam tapak kesunyian.

Sunyi……

Sunyi yang menghampar, memastikan semuanya mendapat tempat, berdiam diri bersama, mengosongkan pikiran, dan hanya bisu yang berbicara.
Kesaktian sunyi memecah gelombang kebisingan tangis, menyibak genangan airmata. Dalam diam semua terlihat dengan jelas, hitam atau putih?
Yang jelas bukan abu-abu.


Biggest Fear

*out of record*

Perjalanan hari

Untaian panjang garis pembatas ketakutan kesedihan. Menghampar sepanjang tepian hidup, memanjang tak hentinya dalam setiap waktu yang berpacu dengan umur.
Tua.
Takutkan menjadi tua? Atau takut mejadi dewasa?
Dewasa dalam tolok ukur apa, perbuatan, pemikiran?
Saat ini tak ada yang menjawab, segalanya membisu. Dimana sang jiwa? Pikiran bertanya…
Ternyata dia menjawab…. Terlalu bising, saat ini, biarkan sunyi kembali memeluk, hingga kembali nafasku tuk menjawab. Jangan biarkan ketakutan datang merenda bentengnya.

Pengantar Senja

yang datang dan yang pergi
semua yang hilang kan berganti

yang lalu jangan biarkan berlalu
manusia hidup di atas kaki kaki memori
dapat mencapai tempat ini
merupakan tumpuan dari jutaan kenangan yang menyertai

yang kini hinggaplah asa
di dalamnya terdapat makna
menuju damai yang terasa
makin menjauh di kala haus

dan ketika semuanya berlalu, yang tersisa lalu apa?
semua yang berlalu pasti membawa menuju yang baru
saat ini yang terasa .... biasa ajah siy?!.

perjalanan ini memang belum berakhir
dalam tenang menuju takdir
hingga senja terakhir


*dalam menghirup nafas hidup* (bengek)

Wednesday, March 22, 2006

Antonimisme Jiwa yang Terhanyut

Melihat dalam gelap
Membuta dalam terang

Samakah langit kurasa hari ini?

Dan ketika kubertanya, mereka menjawab

… ……

Hanya aku yang dapat mendengar.

Kicauan burung memenuhi pikiran

…. hanya pikiran.

Berarti sekali lagi, hanya aku yang dapat mendengar.

Desahan angin melewati lubang telinga.
Mereka berbisik…. Dalam nada

Hanya aku yang dapat mengerti.

Jubah malam menyelimuti senja.
Mereka berbincang…. melalui senyap

Hanya aku yang dapat merasa.

Sang bunga menebar warna.
Ia dewasa… dalam gelap

Hanya aku yang dapat melihat

Pangeran mencintai dengan plaktonisnya
Dia memeluk……... dalam angan.

Hanya aku yang dapat melihat.

Menjamu Malam

Berpikir dalam detak waktu, sekian menit terlewati dalam penat
kapan berakhir dengan sukacita? Hingga kini hanya lelah yang mendampingi
setiap saat berkelit dalam ruang hampa bernama kreativitas

hampa? Karena terlalu banyak sesuatu yang memiliki kesempatan namun terlewati begitu saja dalam arus waktu, hingga lenyap tak berbatas.
sekian detik kembali berlalu, memapah sepotong jiwa ini untuk tetap berkelit.
meminta dengan hormat agar waktu berhenti sesaat, hingga raga ini dapat beristirahat sejenak.

Keabsahan kata sudah tak bermakna, yang ada hanya barisan huruf terlihat abstrak tanpa busana. Semua terserap dalam angin kematangan pikiran. pikiran siapa? Pikiran yang melebihi semua bentuk pemikiran manusia. Loncatan kuantum.
Ingin sekali merasakan berada dalam pusaran relativitas saat kejadian itu berlangsung, terhanyut dalam keabstrakan dunia. dunia apa?

Dunia dimana setiap individu tak perlu berpikir untuk mencapai sesuatu yang solid.
Dimana pemikiran merupakan bunga mimpi abadi, karena tanpa berpikir segala sesuatu telah berpijak pada tempatnya. memberikan tempat pada setiap pribadi, luas tak berbatas.
Beribu-ribu awan, berjuta-juta bintang. Sejauh kilatan cahaya, sedekat kedipan mata.

Kembali pada dunia nyata, semua terlampaui jejak waktu yang semakin terkikis. Masih berharap senja belum tenggelam ketika sampai di rumah.

bersantai di kamar mungil
bermain dengan pencuri kecil
bercengkrama bersama mama
bergumul dengan roh-ku terdalam

berharap ia datang di saat tak terduga,
menyejukkan hati, menghangatkan jiwa.

pencuri kecil

Terbaring di sampingku..
Pencuri kecil yang datang tiba-tiba,
apa yang dicurinya?
sebagian hatiku yang tidak lagi utuh ini.
Datang tak terduga yang kemudian menyelinap dalam celah kecil ruang hatiku
Dan sekarang dia menetap disana dengan kokoh

Apa yang kau lakukan pencuri kecil?
Segenap hatiku meleleh oleh lelapnya
Seluruh pikiranku luluh oleh tatapnya.

Apa yang harus kulakukan? Si pencuri telah berada jauh di dasar lubuk hatiku

Jangan pergi
Jangan terluka
Jangan melukai..ku
wahai pencuri kecilku

Kini yang sedang terlelap dalam gelapnya malam, lembutnya selimut dan hangatnya perhatian.

Slamat tidur pencuri kecilku.

Diri ini selalu menyayangmu

Thursday, January 12, 2006

ya ampun

mau ngetik online diary ajah susahnya minta ampun...

tapi kenapa? knapa tetap bertahan, dalam sesaknya jaring laba-laba yang telah dihuni jutaan manusia dari seluruh dunia?

server bukan cuman satu, tapi coba pikirkan, pikirkan. siapa yang mengendalikan seluruh jaringan internet di seluruh dunia?

apakah jaring ini telah berdiri sendiri dan hidup dalam setiap lembar kawat kabel?

pertanyaan-pertanyaan yang aneh untuk sebuah halaman yang dituliskan dalam bentuk serat-serat jaringan itu pula.

lalu knapa saya, anda, dan mereka dapat terjebak dalam lengketnya jaring maya yang merupakan salah satu media pososial ini?

permasalahan waktu dan ruangkah yang membuat segalanya menjadi mungkin dalam dunia ini?

coba bayangkan, dunia tanpa internet saat ini. hiyyy. bagi yang setiap hari hidup dengannya pasti terasa amat sangat mengerikan. tapi tebak, tebak, ternyata masih ada juga komunitas yang tidak menyentuh keberadaan dunia serba bisa ini. aneh bukan? bukan aneh? atau justru kami, kita yang menggunakan fasilitas komunikasi global ini yang aneh? hmm.. pertanyaan yang aneh.

retoris atau memang tidak ada jawaban yang pasti mengenai hal ini?

lah, gimana yang nulis...

lagi error nih, mungkin ini bukannya sedikit bunga pikiran, hanya kotoran yang tersendat yang perlu dibuang sehingga tidak menghalangi jalannya pikiran yang jernih, hihihihi...

Friday, November 18, 2005

Dunia Terlelap

lalu lalu... perjalanan itu masih kelabu
mengharu biru di tepian waktu
hingga malam telan di kalbu

lalu lalu... datangnya rindu disambut sendu
menanti fajar yang menyapu debu
membawa jiwa tuk kembali baru

lalu lalu.. saat itu meraih semu
menebar asa membentang pilu
tunjuk bintang menjadi abu

Lalu lalu.. dengan sekejap ia berlalu
Meninggalkan kenangan haru
Mengubah jadi kelu yang membisu


*senyap*


Ternyata aku belum cukup dewasa untuk menghadapi dunia
Jiwa ini belum dapat beradaptasi dengan sakitnya hujaman panah atmosfir dunia.

Dunia. Dunia.
Mungkin aku harus membentuk duniaku sendiri hingga tidak tersesat di dalamnya. Merasa nyaman di dalamnya. Merasa selalu bahagia. Jikalau tangis pun tangis yang ku buat sendiri. Tapi akankan berlangsung abadi? Keabadian semu yang kubentuk dengan segenap jiwaku sendiri,

Tuesday, May 03, 2005

Sedikit Pengetahuan Mengenai Pososial



Pososial: menuju kematian sosial

Mungkin selama ini anda2 semua bingung yak, jika melihat tulisan2 sy mengenai ‘ruang pososial’. Jikalau begitu, mari sedikit saya reduksi tulisan Pak Yasraff mengenai ruang pososial ini yang merupakan bagian dari semesta posrealitas...

Pos = Melewati/melampaui/mati
Sosial = interaksi antara 2 orang atau lebih dalam dunia realita

Jadi pososial adalah kematian sosial. Yaitu dunia yang kita hadapi di era virtual ini. Pada saat 2 orang atau lebih berinteraksi melalui sebuah ruang teleconference, chat room, mailing list, maupun halaman seperti friendster ini, maka yang tercipta bukanlah ‘realitas sosial’ lagi, melainkan ‘realitas artifisial’(ruang realitas buatan/ virtual social space)

Yang terbentuk dalam ruang sosial virtual ini bukanlah realitas sosial, melainkan semacam simulasi sosial, sebuah relasi sosial yang tidak tercipta secara alamiah di sebuah teritorial yang nyata, akan tetapi sebuah teritorial halusinasi, yang terbentuk dari bit-bit informasi.

Chatting di internet adalah sebuah simulasi sosial, karena komunitas yang diciptakannya disatukan bukan oleh sebuah ruang sosial yang mengikuti “hukum alam”, melainkan ruang sosial yang mengikuti “hukum informasi”.

“Kematian Sosial” adalah kondisi ketika kesadaran manusia diserap oleh “ruang-waktu virtual” ini, sehingga tidak tersisa lagi untuk “ruang-waktu alamiah”.

Jadi ‘ruang pososial’ adalah sebuah ruang sosial yang di dalamnya segala bentuk aktivitas sosial telah melampaui aktivitas yang ‘natural’, yang kini diambil alih oleh wujud ‘artifisial/virtualnya’. Nah, ruang-ruang pososial ini telah menciptakan komunitas baru yang disebut “komunitas virtual”. Yah friendster ini misalnya, telah menciptakan “ruang imajiner” atau “maya” yang di dalamnya setiap orang dapat “bertemu” dengan cara baru, yaitu cara ‘artifisial’ atau ‘virtual’ dalam sebuah “komunitas imajiner”. Tidak dapat disangkal, bahwa kita telah menjadi bagian dari komunitas imajiner ini, termasuk saya.

Tapi tentunya dalam perjalanan menuju lorong kematian sosial, kita dapat memilih untuk melebarkan pandangan, agar tidak tersesat untuk terlibat sepenuhnya dalam dunia artifisial yang mengaburkan wujud identitas natural.

Saat anda2 semua membaca ini, anda pun telah resmi menjadi atau menyadari sebagai pengembara ruang pososial....

Tuesday, March 15, 2005

Perjalanan Menuju Metamorfosis



Tiba-tiba dunia berpaling
Menarik kembali rasa bahagianya
Dan meninggalkan dalam biduk kelam

Tibalah pada suatu titik, yang tidak layak disebut bifurkasi, karena toh tidak mengkristal, dimana pikiran ini mulai terkontaminasi dengan yang namanya kejenuhan.

Rasanya alam imajinasi tidak lagi memberi inspirasi atas apa yang raga ini kerjakan demi melangsungkan sisi kreativitas.

Tiba-tiba stagnan terasa dalam proses menuju sebuah mahakarya.

Akankah terjebak dalam likunya jalan yang membuat diri ini tersesat dalam suatu kepenatan karena tiba-tiba tersadar ternyata pikiran ini hanya berjalan di tempat dalam waktu yang lama?

iiiiihhhh.. aku harus dapat melakukan manuver kuantum, mencoba meloncat dari sistem biner, sehingga dapat meningkatkan level dunia imajinasiku untuk terus berkarya.
Tapi gimana caranya yak? Aduh ribet deh. Kadang2 iri sama mas ropiq yang dengan mudah meloncat-loncat indah dari satu sistem ke sistem lain tanpa terjebak arusnya, manusia “quantum manuverism”.

Yah yah... diri ini sering sekali terjebak dalam sistem biner yang mengikat dalam suatu bentuk abstrak yang berpola(dapat disebut abstrak karena tidak terlihat struktur yang jelas namun ternyata memiliki pola yang mempengaruhi jalan pikiran), sehingga tanpa sadar pola itu yang mengisi jaring-jaring pikiran yang kemudian mengkontaminasi alam imajinasi.

Lalu... jrengjrengjrengjreng....
jadilah sebuah bentuk plagiarisme.
Dan jadilah diri ini seorang plagiat amatir, yang tanpa sadar telah merunut pola-pola sistem yang telah terlihat sebelumnya.

Melanggar hukumkah? Atau melanggar hati nurani? Aaahhhh... gimana donk?

Gimana caranya berkarya sebagai simulakrum sejati(“being its own pure simulacrum”, kata Baudrillard), adakah orang seperti itu? Padahal kata Salvador Dali ”jika seseorang tidak pernah meniru apapun, maka ia tidak akan pernah menghasilkan sesuatu”, dan saya, sebagai seorang yang turut “mengaku” sebagai surealis seharusnya turut serta bukan atas apa yang dikatakan oleh sang surealis sejati tersebut?
Sedangkan ia sendiri pun dengan penuh keyakinan mengatakan mengikuti teknik iluminasi Jan Vermeer Van Deflt, demi untuk mengenangnya pada lukisan “The Ghost of Vermeer Van Delft which can be used as a table”, karena toh Dali salah satu penggemar Vermeer.
Jadi intinya, plagiarisme diperbolehkan begitu?

Yah, lalu apa kabar dengan simulakrum sejati? Plato dan Aristoteles pun sampai bisa menelurkan “Mimesis” yang merupakan cikal bakal “Plagiarisme”, cuman yang dibahas Plato yah plagiarisme atas segala bentuk yang diciptakan Tuhan, bahkan “ide” sekalipun yang masih di kepala kemudian dituangkan dalam sebuah karya disebut plagiat, soalnya dia bilang “ide” itu juga berasal dari Tuhan. Itu sih keterlaluan yak? Si Plato ini belajar dari gurunya yaitu Socrates yang pantes aja waktu itu dihukum mati suruh minum racun, karena dikira telah meracuni pikiran muda-mudi romawi waktu itu. Tapi konkritkah jika seseorang harus mati demi idealisme dan pola piker yang bertentangan dengan arus?
Edannya dia malah menganggap kematian itu suatu jalan untuk mencapai ilmu pengetahuan yang lebih konkret, jadi yah dia meninggal dengan pikiran yang bahagia, sebagai filsuf sejati, begitu katanya.

Sebagai desainer saya hanya sanggup berharap atas apa yang saya kerjakan bukanlah dilandasi niat plagiarisme, namun berasal dari hati nurani yang tulus lus, dan dapat menjelajah alam imajinasi lebih dalam lagi, supaya terbebas dari ilusi dan khayal.

Semoga dapat berkarya lebih maksimal, waduh… mohon bimbingan mas ropiq di ruang kreatip, dan dimaklumkan atas segala keterbatasan yang kumiliki…

terimakasih telah membaca sedikit catatan kecil yang tadinya ingin berjalan sebagai sebuah prosa, dan tiba-tiba ia bermetamorfosis menjadi.....

Thursday, January 27, 2005

Kurasa...rasa.. rasa apa yah? Coklat, Strawberry, atau vanilla?

catatan setelah selesai ujian..

Dan saat ini kurasa, penantian yang membahagiakan...
Sebanyak butiran hujan yang jatuh,
Sejumlah butiran pasir yang tersapu,

Dan saat ini kuraa.. kehangatan yang meresap, kekal nan abadi. Kebekuan jiwa yang mengkistal, kini meneruskan hidupnya dalam kehangatan senja.

Dan saat ini kurasa... buih-buih cinta tergenang dalam lembutnya buaian.
Merasuk dalam jiwa yang kelam.

Dan saat ini kurasa... tiada yang dapat memisahkan kita, duhai jiwa yang selalu merindukan kedamaian. Pengelana cinta dalam ladang tak bertepi, kini telah kembali.
Dan saat ini kurasa.... sudah saatnya kita kembali melebur, mengenang kembali kepingan yang hancur.

Karena mereka...mereka telah menikmati kebahagiaan abadi, yang tidak sempat dirasakan ketika atap jiwa menurunkan pondasinya.

Dan saat ini kurasa.... bahagia. Bahagia yang tak tertahan. Kebahagiaan sejati yang diputuskan oleh setiap atom yang bergerak dalam tubuh ini.

Dan saat ini kurasa....nyaman

Monday, January 24, 2005

Catatan Di Pagi Buta Untuk Seseorang Disana...siapapun dia

Diantara berjuta langit malam yang dilihat berjuta pasang mata.

Kuyakin disana ada seseorang yang memandang langit yang sama.

Dan saat ini kutermenung, akankah dalam naungan bintang ini kita bertemu wahai pangeran?

Permadani malam yang merentangkan sayapnya untuk disaksikan seluruh mata, apakah sama langit yang kusaksikan dengan penglihatanmu ?

Hitamnya malam, samakah dengan yang kau rasa ?
Birunya langit, seperti inikah yang kau lihat ?
Harumnya hujan, begitukah yang kau cium?

Diantara berjuta rintik hujan yang turun, saat ini kutermenung, akankah seseorang disana menghirup harum yang kurasakan?

Lalu saat ini kutersadar, kita, berada dalam langit, bulan, bintang dan rintik hujan yang sama.
Dimanakah engkau wahai pangeran?
Memetik bintang tuk kau tanam?
Menelusuri hujan tuk kau genggam?
Atau memanggil awan tuk pergi ke bulan?

Semoga suatu saat dibawah langit yang sama, kau akan menemukanku yang sedang merangkai butiran hujan untuk dapat pergi bersama ke bulan.

Hari ini tentang kebahagiaan



Kebahagiaan.. kebahagiaan.

Setiap manusia dan seluruh mahluk hidup di dunia ini mencari kebahagiaan. Dengan kekayaan, ketenaran dan popularitas daaann berbagai macam cara.

Hari ini di tengah pagi buta ini setelah bergulat dengan seekor kecoa yang menyebalkan, kutemukan makna kebahagiaan yang selama ini begitu diinginkan.

“Kebahagiaan itu tidak dapat dicari maupun ditunggu kedatangannya”
“Kebahagiaan ditentukan oleh pribadi masing-masing”

Kitalah yang menentukan saat-saat kebahagiaan.
Sebagai contoh, cobalah berkata pada diri sendiri, hari ini aku ingin bahagia tidak?
Jika jawabnya ya, maka kita akan temukan sendiri rasa bahagia tersebut.

Tengoklah sekitar, diantara segala kekurangan yang ada dalam diri kita, entah bokek, gendut, gak lulus mata kuliah, dan lain sebagainya, masih banyak sekali yang lebih menderita, kekurangan makan, kehilangan keluarga, terkena banyak penyakit, dsb.

Dengan begitu kita patut merasa bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan, dan dengan begitu kita akan dapat lebih merasa bahagia dengan berbagai keadaan yang ada dalam diri kita.

cukup mudah tho merasa bahagia?
Sekali-sekali kita pun harus melihat kebawah dalam perjalanan kita menuju keatas.
Semoga lebih berbahagia.

Tuesday, December 28, 2004

Sebuah Awal Baru, Sehingga Aku Tidak Terlarut dalam Jalan Panjang Penuh Liku nan Gelap

Awal baru yang membuat hidupku lebih bermakna..

Kini kucoba untuk lebih merasakan keindahan dalam setiap langkah hidup yang kutempuh. Segala pedih dan sedih yang selama ini melingkupi jalanku, ternyata hanyalah suatu jalan yang tanpa sadar kuputuskan sendiri, padahal ternyata segala sesuatunya dapat kupilih sendiri. Dan kini, aku memutuskan untuk memilih jalan yang lebih bahagia. Dimana bunga-bunga lebih harum, dan mentari bersinar lebih cerah, dan faktor penentu hal-hal tersebut bukanlah pihak kedua maupun ketiga, tetapi aku.. yah diriku sendiri yang dapat membuat hidupku lebih berarti, baik bagi pribadiku maupun semua orang yang ada di dunia ini.

Aku akan tetap menjaga cinta dan kasih sayangku kepada mereka yang pernah kucinta dan kusayang, tanpa pernah berhenti berharap bahwa mereka mencintaiku seperti aku mencintai mereka...

Abadilah cinta!