Wednesday, August 25, 2004
Space Controller
Kini kita berbicara mengenai ...... Waktu
Setiap manusia pasti pernah berpikir, walau sekalipun, atau bahkan berkali-kali... seandainya waktu dapat berputar kembali. Entah untuk mengalami lagi kejadian indah yang mungkin pernah terjadi di lampau, maupun untuk mengubah suatu kejadian yang tidak diharapkan, tetapi sudah terjadi.
Mengapa manusia selalu berkutat dengan waktu?
Sebenarnya siapa yang menciptakan dan mengenali adanya waktu, …sebuah pertanyaan retoris. Sebab manusia sendirilah yang menginginkan adanya waktu, adanya batas-batas dimana mereka dapat mengatur maupun diatur oleh aktivitas keseharian tersebut.
Waktu hanyalah seorang kakek tua yang menatap sinis dengan bandul jam di tangannya. Baginya, hidup manusia hanyalah pengisi setiap detiknya, menitnya, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Waktu berlalu dengan angkuhnya, seakan ia mempunyai kekuatan untuk membuat semua hal terjadi.
Mempercepat masa-masa bahagia dengan tidak membiarkannya kembali, dan memperlambat masa-masa kesedihan.
Sebenarnya waktu itu sebuah relativitas, dimana perhitungan waktu pada setiap orang tidaklah sama. Yang menyamakan hanyalah perhitungan formal dimana setiap jam adalah 60 menit dan setiap menit terdiri dari 60 detik.
Padahal, coba kita bayangkan sejenak, bagi seorang ilmuwan, waktu bertahun-tahun di laboratorium hanya terlewati barang sejenak, namun bagi seorang musisi, sehari saja rasanya sudah seperti berabad lamanya.
Begitu juga bagi seorang anak kecil, sehari di taman bermain tentu berbeda lamanya dengan sehari di sekolah.
Mungkin kakek tua itu kesepian dengan tugasnya sebagai penjaga waktu, bagaimana seandainya ada seseorang yang bersedia ataupun dapat menemaninya dalam menjalani tugasnya?
Mungkin masa-masa bahagia dapat berlangsung selamanya, dan masa kesedihan tidak pernah terjadi, karena dilewati dengan begitu cepatnya?
Atau.. mungkin kebalikannya?
Rasa-rasanya, mungkin lebih baik segala sesuatu berjalan seperti biasanya. Karena setiap manusia merupakan individu dari ego-ego yang ada, maka pengendali waktu haruslah seseorang yang tak ber-ego, yang mampu berkuasa atas dirinya sendiri.
Jika emosi yang bertumpuk tak dapat diungkapkan, yang ada hanyalah bangkai kesedihan yang membaui seluruh dinding pertahanan jiwa dengan aroma yang memuakkan.
Jika emosi dan ego bersatu maka kehancuran rohani tak dapat terelakkan.
Jika emosi membasahi jiwa yang bertumbuh bukan saja kebencian tapi juga dendam dan kemarahan yang subur dan berakar.
Jika emosi memenuhi tarikan nafas, yang diperlukan hanyalah..........berbagi.
Berbagi beban, sehingga emosi itu tidak bertumbuh, mungkin hanya sekedar mengendap, setelah luapan emosi mengering, mungkin akan menguap...
Bersatu dengan hembusan nafas yang berjalan keluar menuju udara hingga lenyap ditelan atmosfer.
Namun.. adakah yang mau berbagi?
Disaat tubuh dan pikiran dikuasai emosi.... mengapa dunia menjauh? Apakah mungkin aura emosi tersebut bertahta dengan kuat sehingga mempengaruhi setiap mahluk?
Disaat seperti ini, hanya pertolongan Tuhan yang dapat diharapkan....
Tolonglah hamba-Mu ini.......
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment