Mengapa? Kebahagiaan begitu cepat menghampiri, ia selalu datang dalam waktu singkat, yang kemudian mempersilahkan gelap untuk kembali menyelimuti.
Tidak setiap individu dilahirkan sempurna, walau banyak yang terlihat seperti itu.
Tidak selalu ada pelangi yang dikatakan para pujangga...
Ketiadaan...
Tiap pribadi mengalaminya dimana ketiadaan menyapu keadaan dengan durinya yang tajam. Dalam pekatnya masa ketiadaan, impian dan harapan datang dengan api semu-nya yang membakar dinginnya angan. Dengan begitu, hangat yang terasa pun hanyalah sebuah fantasi. Kini hanya berharap Tuhan akan membantu dengan keajaibannya.
Karena dia.... siapapun dia yang dicintai oleh hati ini, pasti telah dicintai dan mencintai hati lain sebelum pribadi ini sempat menawarkan serbuk keabadian cinta dengan taburan kesetiaannya.
Saat hati ini jatuh, siapa yang coba mengangkatnya? karena kita hanya hidup sendiri di dunia ini. Dunia sosial hanyalah milik mereka yang mampu membelinya. Kini yang patut diandalkan hanyalah kekuatan jiwa sendiri untuk membantunya dalam keterpurukan.
Karena.. jika hidup ini hanyalah ilusi, lalu semua ini juga merupakan kenyataan semua yang tidak akan menggoyahkan jiwa dan pikiran... atau mereka sendiri pun hanyalah sebuah ide yang diinjeksikan secara tiba-tiba dalam waktu singkat untuk menterjemakan makna hidup?
Karena hidup ini hanyalah sebuah ilusi, ilusi sesaat yang mencoba membuka ruang dalam pikiran jiwa untuk memenuhi ruang kosong dalam kehampaannya. Melatih kekuatan hati, pikiran dan jiwa untuk menempanya dalam sebuah simulasi menuju sesuatu yang kekal, apakah mereka layak?
Mengapa kejadian menyakitkan selalu berulang? Akankah waktu berjalan terus kedepan sebagai sebuah garis lurus tanpa harus berputar?
He, always being someone else...
And he let me be loved by someone else, because, he never love me like the way I do.
Aku tidak keberatan menjalani ilusi ini..... untuk sementara.
Sunday, August 22, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment