Saturday, May 15, 2004

Pada Suatu Hari

Another chapter.....
Dung dung dung dung dung…..
Langit…ngit.. ngit...
Kemana sih warna birumu yang indah itu? Dipersaikan awan abu-abu nan hitam yang bergulung-gulung yang bawakan hujan dengan gemuruh guntur dan percikan kilatnya?

Kenapa sih awan hujan selalu berwarna kelabu yang menyiratkan warna dingin nan sendu dan pilu?
Ataukah aku sudah mulai mendiskriminasikan warna?
Mungkin karena warna kesukaanku biru, maka kuanggap saja definisi indah itu apabila awan putih menghiasi langit biru…
Padahal sebenarnya aku cukup menyukai hujan loh!

Dari aroma khas yang ditimbulkankan ketika air hujan tersebut menyentuh permukaan tanah merah yang dibuatnya basah. Aroma tersebut memiliki cita rasa tersendiri yang terpatri dalam memori otakku ini.

Saat indera penciuman menjembatani bau khas tersebut, sehingga menimbulkan perasaan damai, tentram, nyaman.. ya begitulah.. aneh bukan? Kadang-kadang rasanya terlalu egois juga jika kita merasa bahagia saat hujan datang, padahal banyak orang menderita karena..... kebanjiran…

Seharusnya kita dapat berbagi kebahagiaan melalui hujan.
Seharusnya orang-orang berbahagia dengan hadirnya hujan.

Ah itu semua gara-gara birokrasi rumit yang menunda-nunda dana banjir. Shit! Orang-orang jadi merasa kesal pabila hujan turun…

Untung saja deh, masih ada untung, (dasar orang jawa)... rumahku tidak kebanjiran.
Apa jadinya jika hal itu terjadi? Ih amit-amit

Hujan.... kamu akan jadi musuhku.
Tapi, rasanya tidak, sebab hujan memiliki aromatherapy yang membuatku tetap jatuh cinta padanya... yah untuk sementara.

No comments: