Monday, July 19, 2004

Saat Mentari Terbenam

Dan.... Saat ini logika menjawab.............
Untuk kesekian kali :
Segala sesuatu TIDAK ADA yang abadi!

Kebahagiaan datang sekejap mata, begitupun pergi dalam langkah ringan. Saat ini yang tersisa hanya sunyi...
Kesunyian mendalam yang sekali lagi juga bukan sesuatu yang abadi.
Kesunyian hanyalah delusi dari keabadian yang merata, terasa senyap meresap dalam setiap pembuluh nadi, sehingga setiap tetes cairan yang mengalir dalam tubuh ini pun terinfeksi ilusi yang membuat kesunyian terasa ABADI.

Mengapa kesunyian terasa begitu akrab dalam setiap sel-sel tubuh manusia?
Terkadang manusia merindukan tangis dalam kesedihannya.
Terkadang manusia menantikan amarah dalam setiap emosinya
Dan terkadang manusia merasakan ketenangan dalam kesunyian...

Ini adalah saat dimana kita merenung, melebur dalam kesenyapan.
Biarkan lidah beristirahat
Ijinkan hati berbicara,.
Diantara percakapan hati dan jiwa biarlah pikiran ini duduk dan menyaksikan yang seharusnya telah lama ia dengarkan.
Tubuh hanyalah pengantara dimana representasi setiap individu menghasilkan ilusi yang berbeda yang dibentuk oleh buah pikiran dan perasaan.

Setelah selesai...... Kembalilah ke alam nyata demi kelanjutan kisah kita yang masih panjang (homunculus berbicara)

Lalu.... ajari aku mengendalikan lidah
Ajari aku mengendalikan emosi
Ajari aku berpikir dalam menentukan langkah

Rasanya hati ini tidak percaya lagi kepada lidah, padahal lidah merupakan perwujudan jiwa.
Jiwa yang adalah keinginan daging.
Saat ini hati sedang dibutakan oleh jiwa

Pada awalnya jiwa terlahir secara murni, dengan kesucian hakikinya ia merekat bersama dengan tubuh yang dipenuhi keinginan duniawi....

Kematian adalah awal dari kelahiran[1] saat dimana jiwa kembali kepada kemurniannya.

Kebenaran sejati hanya diperoleh ketika tubuh tidak lagi mengikat dengan segala kefanaannya, maka kematian adalah jalan menuju kebenaran sejati..


[1]Dialog Socrates bersama murid-muridnya dalam buku Plato, Matinya Socrates.

No comments: